Blog
image

Berbohong Di CV? Begini Cara HRD Mencari Kebohongan Pelamar Kerja

Ditulis oleh : admin
03 June 2021 Pukul 03:38

Siapa sih yang tidak mau konten CVnya terlihat menarik ketika dilihat oleh HRD? Tidak sedikit dari para kandidat yang melakukan kebohongan pada CVnya agar bisa menampilkan gambaran dirinya lebih baik di mata HRD. Kebohongan yang paling sering ditampilkan kandidat dalam CV biasanya berbentuk melebih-lebihkan skill, pengalaman, pendidikan dan pelatihan atau kursus di luar pendidikan formal.

Jika hal itu diketahui HRD sebagai sebuah kebohongan, pupus sudah harapan pelamar kerja untuk diterima bahkan bisa menjatuhkan reputasi pribadi pelamar. Lalu kalau kandidat bisa memanipulasi CV, bagaimana cara HRD mencari kebohongan pelamar kerja? Ada beberapa cara yang biasa digunakan HRD untuk mendeteksinya. Berikut ini cara-cara yang digunakan HRD untuk memvalidasi informasi CV pelamar, agar kamu dapat menyusun CV yang natural yang lebih tepat menggambarkan siapa dirimu.

 

5 Cara HRD Mencari Kebohongan Pelamar Kerja

Cara HRD mendeteksi kebohongan pada CV dapat dilakukan sebelum proses wawancara maupun pada saat wawancara kerja. Berikut ini beberapa cara yang digunakan HRD untuk mencari kebohongan pelamar kerja.

1. Cek Latar Belakang

Cara pertama yang paling mudah adalah dengan mengecek data kandidat. Ketika kamu dipanggil wawancara, HRD akan melakukan pengecekan tentang kebenaran data yang kamu tulis. Dengan mengecek akun media sosial kamu, HRD bisa mengetahui karakter kamu sesuai dengan yang digambarkan dalam CV atau tidak. Jika kamu termasuk kandidat dengan pengalaman kerja, bisa jadi HRD akan melakukan pengecekan ke perusahaan tempat kerjamu yang sebelumnya.

2. Cek Kompetensi

Berikutnya, HRD akan melakukan pengecekan terhadap kompetensi. Cek kompetensi juga sekaligus menilai apakah kandidat memenuhi kriteria yang dicari oleh perusahaan. Biasa HRD akan melihat riwayat pendidikan dan pelatihan kandidat, kemudian melakukan analisa apakah dengan pendidikan dan pelatihan yang diikuti sudah sesuai kompetensi yang diharapkan.

Misalnya jika seorang kandidat hanya mengikuti webinar online sehari tentang kepemimpinan lalu menuliskan soft skill leadership dengan nilai excellent, maka hal ini dapat menjadi tolok ukur bagi HRD untuk membuang kandidat tersebut.

Atau jika kandidat merasa mahir mendesain grafis karena belajar otodidak, sementara pelatihan yang diikuti hanya workshop 1 hari misalnya. Maka ini belum menjadi bukti yang kuat bagi HRD bahwa kandidat memiliki kemampuan desain grafis yang mahir, bahkan malah bisa dianggap kandidat sedang melebih-lebihkan kemampuannya. Justru untuk jenis hard skill seperti ini lebih diutamakan portofolio yang menunjukkan hasil karyanya.

3. Tes Kemampuan

Cara ketiga ini hanya bisa dilakukan oleh HRD jika dalam screening CV dirasa belum ditemukan kejanggalan. Bisa jadi sebelum kandidat diundang wawancara, dia akan dihubungi oleh HRD untuk membuat suatu contoh pekerjaan yang bertujuan untuk mengetes kemampuan kandidat. Atau bisa juga dilakukan pada saat wawancara. HRD akan meminta kandidat menjabarkan hal-hal detail dan teknis yang belum ada pada CV. Lalu mensingkronkan antar jawaban kandidat dengan CV yang telah dibuat. Jawaban-jawaban kandidat yang cenderung bertele-tele atau tidak lancar akan menjadi indikasi kuat bahwa kandidat telah berbohong pada CVnya.

4. Lihat Bahasa Tubuh

Disadari atau tidak oleh kandidat, bahasa tubuh kandidat pada saat wawancara bisa menjadi tolok ukur bagi HRD untuk menilai kandidat jujur atau bohong. Berbeda dengan mulut, secara psikologis, bahasa tubuh dapat mengungkapkan kebohongan seseorang. Salah satunya adalah dengan mengamati gerak mata kandidat. Kandidat yang menghindari kontak mata berkemungkinan besar menunjukkan suatu kebohongan.

Atau bisa juga HRD akan mengetes dengan pertanyaan yang jawabannya sudah tersedia pada CV (misal perkenalan diri) lalu akan diperhatikan gerakan matanya. Kemudian HRD akan menanyakan hal lain yang belum terdapat pada CV dan mengamati gerak mata. Jika gerak matanya berbeda dari jawaban atas pertanyaan pertama, boleh jadi ada indikasi kandidat telah melakukan kebohongan atau jawaban imajinatif.

5. Pengalaman HRD Sendiri

Bagi seorang HRD yang berpengalaman, aktivitas pengecekan dan validasi data kandidat bukan hal sulit dilakukan. Beberapa rekruter bahkan menganggap bahwa informasi yang too good to be true kemungkinan besar adalah informasi palsu. Contoh informasi yang too good to be true akan dijelaskan di bawah ini.

 

Kebohongan Yang Biasa Dilakukan Fresh Graduate

Barangkali sekarang kamu bertanya, dari penjelasan di atas yang paling mungkin membuat CV bohong adalah kandidat yang berpengalaman, kalau begitu fresh graduate terbebas dari sangkaan bohong oleh HRD donk ya? Nah, jangan salah, kebohongan pada CV juga bisa dilakukan oleh fresh graduate. Karena kebanyakan fresh graduate belum memiliki pengalaman kerja, celah untuk melakukan kebohongan biasa terjadi pada bagian pendidikan atau pelatihan non-formal dan pengalaman organisasi.

Misalnya seorang kandidat menuliskan mempunyai pengalaman organisasi di kampus. Namun pada faktanya peran kandidat tersebut pada organisasi tidak begitu signifikan atau malah sekedar numpang nama. HRD pada akhirnya akan melakukan pengecekan kompetensi dan tes kemampuan. Jika kandidat gagal memenuhi ekspektasi, sementara kandidat mencantumkan pengalaman organisasi, hal ini justru malah bisa menjadi blunder bagi kandidat sendiri.

 

Contoh Format Penulisan CV Yang Dicurigai Bohong

Contoh Penulisan Skill Bentuk Progress Bar

Skill

HTML & CSS
Bootstrap Framework
Media Queries
JQuery
Wordpress

Salah satu contoh penulisan CV yang rentan dicurigai sebagai informasi bohong adalah penulisan hard skill dengan gambar progress bar penuh (Skill HTML & CSS ditampilkan penuh). Gambar grafik penuh seperti itu akan menimbulkan interpretasi yang berbeda bagi HRD. Kandidat dianggap orang yang sangat ahli karena kemampuannya 100%, tanpa kesalahan, dan ini contoh yang too good to be true, besar kemungkinan kandidat berbohong.

Sebenarnya, sebagian HR tidak mempermasalahkan penulisan dengan cara progress bar seperti di atas. Asalkan informasi yang disampaikan oleh kandidat jelas tolok ukurnya. Misalkan kandidat menyertakan keterangan prestasi Juara I Kompetisi Design Web HTML & CSS Tingkat Kampus Se-Provinsi, atau Skor TOEFL 500.

 

Masih Mau Memoles CVmu Dengan Kebohongan?

Dengan penjelasan di atas, semoga sekarang kamu paham cara-cara HRD mencari kebohongan pelamar kerja. Juga informasi apa saja yang dianggap sebagai informasi bohong di mata HRD, meskipun kandidat merasa menuliskan informasi yang benar. Sebenarnya dengan informasi apa adanya pun kamu dapat membuat CV yang disukai HRD. Cara praktis mempelajari cara membuat CV dengan benar adalah dengan ikut KelasSiapKerja, di sini kamu bakal diajari cara membuat CV yang memikat HR dan dibimbing langsung sama HR Rekruter.

Blog Lainnya

Kirim Komentar

Home
Assessment
Curriculum Vitae
Kelas
Akun